Bulutangkis dalam pendidikan
1. Pengertian Analisis
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia “analisis adalahh
penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu
sendiri serta hubungan antara bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan
pemahaman arti keseluruhan”. Menurut Nana Sudjana (2016:27) “analisis adalah
usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga
jalas hirarkirnya dana tau susunannya”. Namun adapun pengertian lain yaitu
“Analisis data merupakan salah satu proses penelitian yang dilakukan setelah
semua data yang diperlukan guna memecahkan permasalahan yang diteliti sudah
diperoleh secara lengkap”. Ketajaman dan ketepatan dalam penggunaan alat
analisis sangat menentukan keakuratan pengambilan kesimpulan, karena itu
kegiatan analisis data merupakan kegiatan yang tidak dapat diabaikan begitu
saja dalam proses penelitian. Kesalahan dalam menentukan alat analisis dapat
berakibat fatal terhadap kesimpulan yang dihasilkan dan hal ini akan berdampak
lebih buruk lagi terhadap penggunaan dan penerapan hasil penelitian tersebut.
Dengan demikian, pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai teknik analisis
mutlak diperlukan bagi seorang peneliti agar hasil penelitiannya mampu
memberikan kontribusi yang berarti bagi pemecahan masalah sekaligus hasil
tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Yosani, n.d.)
Dari pendapat dan pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa analisis adalah suatu kegiatan yang dapat menemukan temuan terbaru
terhadap objek yang akan diteliti ataupun yang akan diamati oleh peneliti
dengan menemukan bukti-bukti yang akurat pada objek tersebut.
2.
Pembelajaran
Pjok
Pendidikan jasmani olahraga atau yang lebih di kenal dengan
istilah penjasorkes merupakan bagian dari pendidikan secara keseluruhan yang
memberi pengaruh terhadap perkembangan seorang peserta didik melalui aktifitas
yang menyebabkan fisik dan gerak termasuk olahraga. Pembelajaran penjas adalah
pelajaran wajib yang ada pada kurikulum pendidikan baik sekolah dasar (SD),
SMP, SMA, yang bertujuan untuk meningkatkan potensi fisik, sportifitas, dan
kejujuran. Pendidikan olahraga ini merupakan pendidikan yang membina anak agar
menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada peserta didik diperkenalkan
berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang
ditekankan di sini adalah hasil dari pembelajaran itu, sehingga metode
pengajaran untuk peserta didik dapat berjalan dan mencapai tujuan yang
dicapai.(Setiawan & Dermawan, 2014)
3.
Hakikat
Bulutangkis
Abdul
Rahman (2014: 2) mengemukakan bahwa permainan bulutangkis merupakan permainan
yang bersifat individual yang dilakukan dengan cara satu orang melawan satu
orang atau dua orang melawan dua orang. Hermawan Aksan (2013: 14), menyatakan
bahwa permainan bulutangkis merupakan olahraga raket yang dimainkan dua orang
(untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang mengambil posisi
berlawanan di bidang lapangan yang dibagi dua oleh sebuah jaring (net). Tiap
pemain atau pasangan hanya boleh memukul shuttlecock sekali sebelum shuttlecock
melewati net. Sebuah reli berakhir jika shuttlecock menyentuh lantai atau
menyentuh tubuh seorang pemain.
Muhajir
(2007: 30), menyatakan bahwa bulutangkis adalah sebuah cabang olahraga yang
memukul dan menangkis bola yang terbuat dari bulu. Inti permainan bulutangkis
adalah memasukkan bola (shuttlecock) ke lapangan lawan melalui net setinggi
1,53 meter dari lantai. Jarring ini membatasi kedua bagian lapangan permainan
tempat para pemain berdiri dan melakukan ge rakan-gerakan tipuan.
Tony
Grice (2007: 1) mengemukakan bahwa permainan bulutangkis merupakan salah satu
cabang olahraga yang terkenal di dunia. Olahraga ini menarik minat berbagai
kelompok umur, berbagai tingkat ketrampilan, baik pria maupun wanita memainkan
olahraga ini di dalam atau di luar ruangan untuk rekreasi juga sebagai
persaingan.
Bulutangkis
merupakan salah satu olahraga yang terkenal di Indonesia dan yang mampu
berprestasi di tingkat internasional. Bulutangkis merupakan olahraga yang
dimainkan dengan menggunakan net, raket dan bola dengan teknik pemukulan yang
bervariasi mulai dari yang relatif lambat hingga yang sangat cepat disertai
dengan gerakan tipuan (Tony Grice, 1996:1). Tujuan permainan bulutangkis adalah
berusaha untuk mejatuhkan shuttlecock ke daerah permainan lawan dan berusaha
supaya lawan tidak bisa memukul atau mengembalikan shuttlecock didaerah
permainan sendiri.(Ardyanto, 2018)
Bulutangkis
merupakan salah satu permainan yang diajarkan pada pembelajaran penjas dari SD,
SMP dan SMA. Permainan ini merupakan permainan yang kompleks yang tidak mudah
di lakukan oleh setiap orang. Diperlukan pengetahuan tentang teknik menyangkut
keterampilan dan kemampuan khusus yang erat hubungannya dengan kelancaran
bermain bulutangkis dan penguasaan teknik dasar. Menjadi seorang mahasiswa
dituntut memahami dan menguasai sejumlah keterampilan fisik, teknik, dan taktik
secara efektif dan efisien. Teknik dasar merupakan salah satu jenis
keterampilan yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswa dalam permainan
bulutangkis. Adapun keterampilan dasar dalam permainan bulutangkis adalah cara
memegang raket, sikap siap (stance), gerakan kaki (footwork), dan gerakan
memukul (strokes). Servis merupakan salah satu teknik pukulan yang sangat
penting untuk mengawali satu permainan bulutangkis.(Ardyanto, 2018)
Konsep bulu tangkis Subardja (2011:1) berpendapat bahwa
permainan tatap muka yang menggunakan raket dan kok sebagai alat permainannya,
dimana satu orang melawan satu orang atau dua orang melawan dua orang, mengacu
pada lapangan tertutup atau terbuka. Lapangan datar yang terbuat dari beton,
kayu dan karpet ini di tandai dengan garis sebagai pembatas lapangan dan di
batasi dengan jaring di bagian tengah lapangan olahraga.
Tujuan
permainan bulutangkis adalah berusaha untuk menjatuhkan shuttlecock di daerah
permainan lawan dan berusaha agar lawan tidak dapat memukul shuttlecock dan
menjatuhkan di daerah permainan sendiri. Pada saat berlangsungnya permainan
masing-masing pemain harus berusaha agar shuttlecock tidak menyentuh lantai di
daerah permainan sendiri. Apabila shuttlecock jatuh di lantai atau menyangkut
di net maka permainan berhenti (Subardjah, 2000, p.13).
4.
Teknik
Dasar Permainan Bulutangkis
Teknik
dasar yang dimaksud bukan hanya pada penguasaan teknik memukul, tetapi juga
melibatkan teknik-teknik yang berkaitan dengan permainan bulutangkis. Menurut
Sapta Kunta Purnama (2010: 13-15), menjelaskan bahwa ada empat macam teknik
dasar keterampilan bulutangkis yang harus dikuasai oleh seorang pemain
bulutangkis, antara lain sikap berdiri (stance), teknik memegang raket, teknik
memukul bola, dan teknik langkah kaki (foot work).
a. Cara
memegang raket (grip)
Bulu
tangkis merupakan permainan yang menggunakan banyak pergelangan tangan. Cara
memegang raket dengan benar akan menentukan hasil pukulannya. Cara memegang
raket merupakan salah satu keahlian dasar yang harus dikuasai setiap pemain.
Menguasai cara memegang raket dengan benar akan menentukan hasil pukulan atlet
tersebut, dan pada akhirnya ia akan mampu bermain bulu tangkis dengan benar.
Menurut Subarajah (2011:20) secara umum hak memegang adalah “menggunakann jari
tangan atau ruas jari secara santai (tidak dipegang), tetapi efektif pada raket
dan bola”. Ada empat cara untuk memperbaiki raket yaitu “grip, western grip (pegangan Amerika), pegangan Inggris (backhand grip) dan hybrid grip” Subarajah (2011:21).
Gambar 2.1 Pegangan Grip
Sumber:
Eskar T. Denatara (2021)


Gambar 2.2 Pegangan Forehand & Backhand
Sumber : Muhammad Rinaldi, 2020:51-52
b. Sikap Berdiri
(Stance)
Cara berdiri dalam permainan bulu
tangkis memang mudah, namun kesalahan saat berdiri akan mengurangi efisiensi
tindakan yang merugikan diri sendiri karena akan berpengaruh pada pukulan.
Walaupun postur ini mudah namun harus menjadi salah satu faktor yang harus
diperhatikan oleh para pemain bulu tangkis, juga merupakan faktor yang sangat
penting untuk memperoleh performa terbaik, dan postur berdiri sangat penting
untuk dikuasai karena memungkinkan atlet untuk bergerak dengan cepat.
Kembalikan bola ke segala arah.
Beberapa postur berdiri yang di
kemukakan oleh Subarjah (2011:24) dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu
“berdiri saat berdiri, berdiri saat menerima jasa, dan berdiri saat
berkompetisi”.
1.
Sikap berdiri saat melayani
a. Berdiri
di sudut depan garis tengah area pemeliharaan,
sekitar
satu atau setengah meter di belakang garis.
b. Kaki
kiri di depan dan kaki kanan di belakang.
c. Beban
di kaki belakang.
2.
Sikap berdiri saat menerima layanan
a. Berdiri
di area perawatan sekitar satu meter di belakang garis depan di tengah area
perawatan.
b.
Berat kaki depan dalam posisi tidak
stabil (biasanya kaki agak berujung).
c. Saat
melakukan layanan, penerima layanan segera memindahkan beban ke anak yang akan
datang.
3.
Teknik Pukulan (Stroke)
Untuk dapat bermain bulu tangkis
dengan baik, pemain harus dapat melakukan beberapa keterampilan memukul atau
keterampilan gerak memukul. Subarjah (2010:33). Teknik meninju diartikan
sebagai metode meninju lubang di bulu tangkis, dengan tujuan menerbangkan shuttlecock ke lapangan lawan. Secara
umum, Teknik pukulan dibedakan menjadi tiga jenis pukulan, yaitu pukulan
ketiak, pukulan lengan samping dan pukulan overhead.
Semua jenis sapuan kuas untuk forehand atau backhand dapat dilakukan dengan memutar lengan bawah untuk
menghasilkan bidikan yang diinginkan. Pukulan ketiak adalah item servis, bulu
tangkis tinggi dan jarring di angkat, pukulan lengan samping di dorong lurus ke
belakang, dan pukulan yang ditinggikan adalah pukulan drop, smash dan drive menurun. Pada saat yang sama, para
peneliti dalam penelitian ini memperhatikan layanan Beckett.
4. Pukulan
Forehand Drive
Pukulan forehand drive adalah pukulan yang biasa digunakan untuk menekan
lawan atau untuk memberikan kesempatan kepada lawan mendapatkan bola-bola yang
melambung sehingga lawan tidak memperoleh kesempatan menyerang dengan pukulan
atas. Grice (2008:97) memberikan pengertian drive
sebagai pengembalian atau pukulan yang mengarahkan bola dalam lintasan relatif
datar, sejajar lantai, tetapi pukulan cukup tinggi melewati net adapun cara
melakukan forehand drive sebagai
berikut:
1. Fase
persiapan.
a. Grip handshake
atau pistol.
b. Kembali
ke posisi menunggu atau menerima.
c. Menggerakkan
tangan yang memegang raket ke atas, di depan anda.
d.
Membagikan berat badan dengan
seimbang pada kedua kaki.

Gambar 2.3 Fase Persiapan Forehand Drive
Sumber:
Grice (2008)
2. Fase
Pelaksanaan
a)
Meraih bola dengan kaki yang dominan
b)
Berputar berbalik kearah datangnya
bola.
c)
Gerakan backswing menempatkan pergelangan tangan pada keadaan tertekuk,
dengan telapak tengan menghadap keatas.
d)
Gerakan forehand swing didahului oleh siku, pukul bola pada poin yang
setinggi mungkin.
e)
Gerakan menelungkupkan tangan
memberikan tenaga.
f)
Tangan dan pergelangan tangan
berputar.

Gambar 2.4 Fase Pelaksanaan Forehand Drive
Sumber:
Grice (2008)
3.
Fase Follow-Through
a) Meneruskan
gerakan ke atas searah dengan gerakan bola.
b) Melakukan
gerakan mengayun ke arah net dengan alami.
c) Mengakhiri
dengan gerakan telapak tangan menghadap ke bawah.
d) Mendorong
tubuh dengan kaki.
e) Menggunakan
momentum ayunan untuk kembali ke bagian tengah lapangan.

Gambar 2.5 Fase Follow-Through Forehand Drive
Sumber:
Grice (2008)
5. Tekik Servis
Pukulan
servis (service) merupakan pukulan
pertama yang mengawali suatu permaina bulutangkis. Pukulan ini boleh dilakukan
baik dengan forehand maupun dengan
dengan backhand. Pukulan servis utama
dalam permainan tunggal ialah pukulan yang tinggi dan jatuh ke belakang,
meskipun harus diakui bahwa dewasa ini ada kecenderungan para pemain tunggal
banyak pula yang menggunakan servis pendek untuk menghindari serangan dari
lawan yang bertipe menyerang. (Haerun, 2020).
Pada
permainan bulutangkis teknik dasar servis adalah pukulan pertama untuk
mengawali permainan. Servis dalam bulutangkis ada 2 yaitu servis pendek dan
panjang. Servis pendek adalah merupakan pukulan dengan raket yang Menerbangkan
shuttlecock ke bidang lapangan
lain dengan arah
diagonal yang bertujuan sebagai pembuka permainan dan merupakan
pukulan yang penting dalam permainan bulutangkis (Poole, 2009:66). Pukulan
servis dengan mengarahkan shuttlecock dengan tujuan ke dua sasaran yaitu, ke
sudut titik perpotongan antara garis tengah, garis servis, dan garis tepi
sedang jalannya shutllecock meny usur tipis melewati net, servis pendek ada dua
macam yaitu servis pendek forehand dan backhand (Tohar, 1992:41).
Adapun ketentuan tersebut
antara lain :
a.
Ketinggian
bola saat perkenaan dengan kepala raket berada dibawah pinggang
b.
Saat
perkenaan dengan bola, kepala raket harus condong ke bawah
c.
Kedua
kaki berada pada bidang servis, tidak menyentuh garis tengah atau garis depan.
d.
Tidak
ada gerakan ganda (saat ayunan memukul sampai perkenaan dengan bola satu kali
gerakan). Gerakan raket harus berkelanjutan tanpa adanya saat yang
putus-putus.
Setiap jenis servis memukul shuttlecock dengan
caranya yang khas, sebab itu masing-masing mempunyai hal-hal yang menguntungkan
dan merugikan pula. Menurut Tohar (1992:41-45), ada macammacam bentuk service
antara lain servis pendek, servis panjang, servis datar, dan servis kedut.

Gambar
2.6 Teknik Servis Panjang Forhand
Sumber: Sapta Kunta Purnama, 2010: 19

Gambar
2.7 Teknik Servis Pendek Backhand
Sumber: Yuliawan, 2017:22
Setelah
mempelajari dan memahami teknik dasar dalam permainan bulutangkis, perlu
menguasai semua teknik pukulan. Teknik pukulan yang dimaksud adalah suatu cara
untuk melakukan gerakan memukul dengan tujuan menerbangkan shuttlecock ke daerah lawan. Hal ini dapat dilakukan dengan
berbagai macam cara yaitu melambungkan tinggi shuttlecock ke belakang, menerjunkan shuttlecock dengan tajam, menerjunkan ke dekat net dan
mengendalikan jalan terbangnya shuttlecock.
Selain penguasaan teknik pukulan dasar dengan baik, tidak lupa juga penguasaan
terhadap pola pukulan yang merupakan rangkain yang dilakukan secara berurutan
dan berkesinambungan dan menggabungkan antara teknik pukulan yang satu dengan
teknik pukulan yang lain. Hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang,
sehingga menjadikan suatu bentuk rangkain teknik pukulan yang dimainkan secara
terpadu. Namun pada kenyataannya siswa belum maksimal dalam melakukan teknik
dasar bulutangkis seperti cara memegang raket kurang tepat, posisi kaki yang
kurang tepat saat melakukan servis, perkenaan shuttlecock dengan raket saat melakukan servis kurang tepat, dan
cara melakukan servis kurang akurat, karena shuttlecock
dipukul terlalu keras jadi shuttlecock
akan keluar ataupun shuttlecock
dipukul terlalu lemah jadi shuttlecock
akan tanggung, sehingga lawan akan mudah melakukan serangan (Haerun, 2020)
6.
Alat
dan fasilitas bulutangkis
Dalam
permaian bulu tangkis ada beberapa komponen berupa peralatan dan lapangan dalam
permainan tersebut, yaitu:
a. Raket
Tidak ada persyaratan untuk raket,
tetapi biasanya Panjang raket adalah 65-67 cm dan berat 200-300 gram. Pemilihan
raket biasanya didasarkan pada ukuran, keseimbangan, jenis pegangan, ayunan dan
tegangan tali yang sesuai untuk kita. Penulis menjelaskannya secara rinci.

Gambar 2.8 Raket Bulu Tangkis
Sumber:
Eskar T. Denatara (2021)
b.
Shuttlecock
Sebuah
shuttlecock harus memiliki berat 4,8-5,6 gram dan mempunyai 14-16 helai bulu
yang dilekatkan pada kepala dari gabus yang berdiameter 2,5-2,9 cm. Panjang
bulu dari ujung bawah sampai ujung yang menempel pada dasar gabus kepalanya
adalah 6,2-6,9 cm. Bulu-bulu ini menyebar menjauhi gabus dan berdiameter
5,5-6,3 cm pada ujung bawahnya, serta diikat dengan benang atau bahan lain
cocok sehingga kuat.

Gambar 2.9 Cock/ Shuttlecock
Sumber
(Poole,2013:14)
- Lapangan Bulu Tangkis
Biasanya pertandingan bulu tangkis
bisa dimainkan di luar atau di dalam lapangan, tetapi pertandingan resmi
biasanya dimainkan di dalam ruangan, karena hal ini dapat menghindari angin
kencang di luar ruangan. Kamar paling cocok untuk bulu tangkis memiliki
ketinggian minimal sekitar 7,70 meter. Namun, untuk bidang standar
internasional tingginya 10 meter.
•
Panjang lapangan : 13,40 meter.
•
Lebar lapangan : 6,10 meter.
•
Jarak antara garis net sampai garis
servis : 1,98 meter.
•
Jarak antara garis servis tengah
dengan garis samping lapangan : 3,05 meter.
•
Jarak antara garis servis belakang
(untuk pertandingan ganda) dengan garis belakang lapangan : 0,76 meter.
•
Jarak antara garis samping pada
permainan tunggal dengan garis pinggir lapangan : 0,46 meter.
•
Tinggi tiang net : 1,55 meter.
•
Tinggi net : 1,55 meter.

Gambar 2.10 Lapangan Bulutangkis
Sumber (Poole,2013:15)

Komentar
Posting Komentar